Pesan edukasi yang bisa diambil dari kirab Thak-Thakan disaat karnaval agustusan adalqh ada aturan peserta umum posisi barisan paling belakang, sesudah barisan dari lembaga pendidikan yang biasanya tema kerajaan, karnival dan lain sebagainya.
Secara penampilan dari kostum, make up, properti, jauh lebih keren dari pada Thak-Thakan.
Mungkin ini bisa dimaknai tentang perbedaan kasta atau status sosial masyarakat, tetapi kenyataannya antusias penonton untuk tetap menunggu dan menikmati Thak-Thakan sangatlah luar biasa.
Ada hal baik yang bisa dipetik, bahwa tidak harus di depan untuk menjadi sesuatu dan berbuat, namun bagaimana keberadaan dan kehadiran kita selalu diharapkan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Menilai karya senipun tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang estetika visual yang apik semata. Namun ada sisi-sisi getaran rasa lainnya yang perlu dipertimbangkan.
Harapan penulis, paparan sederhana ini bisa menjadi pemantik untuk lembaga, akedemisi, dan penulis ikut andil pengembangan penulisan tentang seni pertunjukan Thak-Thakan sebagai pembendaharaan literasi seni kerakyatan Indonesia.
Salam Santun: Barisan Mburi Kudu Ndadi..!
Penulis : Buntas Pradoto | Editor: Agung Purwantara









