Berbagai perbedaan muncul di setiap daerah. Perbedaan itu tampak jelas pula pada barongan yang berkembang di Kabupaten Tuban, khususnya di daerah Kecamatan Tambakboyo.
Dalam penelusuran penulis, ada 12 kelompok kesenian yang masih menjaga ekosistem barongan tersebut. Meliputi Desa Tambakboyo, Kenanti, Klutuk, Sobontoro, Dasin, Pulogede, Cokrowati, dan Belikanget, serta masih banyak barongan tersebut belum terdata sebagai paguyuban melainkan kelompok bermain anak-anak di beberapa desa yang tersebar di wilayah Kecamatan Tambakboyo.
Selain bentuk topengnya ada ciri khusus pertanda kelokalan setempat adalah pada penamaan atau istilah yang berkembang dimasyarakat bukanlah barongan melainkan Thak-Thakan.
Istilah ini diambil dari bunyi yang keluar dari mulut topeng tokoh utama ketika dimainkan.
Secara bentuk jauh berbeda dengan barongan pada umumnya yang cenderung mudah dimengerti simbol kepala hewan tertentu dengan sentuhan artistik baik dari pewarnaan maupun unsur ragam hiasnya.
Pada kesenian Thak-Thakan terlihat lebih sederhana dalam tehnik ukir dan pewarnaannya, serta ada multitafsir antara deformasi dari bentuk kepala harimau atau naga yang menjadi layak untuk diperbincangkan.
Dalam memainkanpun tidak dengan kekuatan gigi dan leher melainkan kekuatan tangan dengan dua sampai tiga orang pemain yang saling bergantian ketika lelah atau disaat yang memegang bagian kepala mengalami kerasukan.
Keunikan juga tampak ada beberapa bentuk ekor Thak-Thakan tidak menyerupai bentuk ekor hewan semestinya, karena paling ujung diterapkan bendera merah putih. Maka tak heran dari visual inilah, menjadi daya tawar akan esensi warisan budaya lokal dalam pertunjukan tersebut. Apalagi diperkuat dengan tokoh-tokoh topeng yang lain seperti Kirek Kikek sebagai simbol anjing hutan, karena ukuran anjing itu kecil memainkannya tidak dipakai di wajah melainkan posisinya di bagian perut pemain.
Karakternya yang jahil dan atraktif memancing aksi Thak-Thakan kian menakjubkan sampai penonton terhipnotis ikut bersorak.
Tokoh antagonis dalam kesenian ini disimbolkan dengan adanya beberapa topeng Gendruwo dan beberapa Wewe Gombel dengan pakaian khas karung goni serta membawa sebilah pedang. Pemilihan pola bentuk mata dari keempat tokoh topeng tersebut berbentuk bulat dan berbahan kaca, sangat tampak menyeramkan ketika memantulkan cahaya dari sinar matahari.
Suasana kesakralanpun juga tercipta dari energi iringan musik yang dimainkan, dengan intrument kendang, dua bilah bonang, dan gong suwukan. Penampilan perwujudan sosok bentuk hewan dan beberapa sosok makhluk astral dalam satu rangkaian cerita dalam pertunjukan Thak-Thakan tersebut, menjadi pesona kesenian lokal yang mempunyai daya pikat tersendiri.
Dari beberapa pendapat narasumber, keberadaan kesenian Thak-Thakan di wilayah Tambakboyo berkembang sekitar tahun 60an, diawali dari keluarga besar Mbah Dikan atau yang terkenal dengan sebutan Thak-Thakan Bledug Kenanti.
Kata bledug diambil dari istilah Jawa yaitu debu yang sangat banyak, debu ini muncul karena gerakan Thak-Thakan ketika ndadi atau kerasukan yang atraktif membuat tanah sebagai pijakannya menjadi berdebu, dan istilah Kenanti sendiri diambil dari desa mereka tinggal.
Seni pertunjukan Thak-Thakan biasanya dipentaskan dalam format kirab atau arak-arakan disaat kegiatan karnaval HUT Indonesia.
Dari nomor urut yang selalu ada paling belakang membuat masyarakat tetap menunggu kehadirannya, walaupun masih banyak yang mempunyai rasa takut ketika melihat tokoh-tokoh dari pertunjukan Thak-Thakan. Namun ini menjadi daya tarik penonton untuk ketagihan menikmatinya, sering pula penonton melihat topeng yang digunakan sebagai properti utama bergerak sendiri dan lepas dari orang yang memainkannya.
Memang tidak bisa dipungkiri unsur mistis tersebut dilatar belakangi dari sebelum kirab beberapa kelompok Thak-Thakan masih ada yang menggelar ritual. Seperti slametan, membakar kemenyan sebagai sarana memanjatkan doa atau mantra yang juga ada ikatan spritual penghormatan kepada Danyang atau cikal bakal daerah setempat.
Prosesi seperti ini tidak lupa pula mengoleskan minyak wangi Srimpi pada hidung topeng, dan ada simbol lain ciri khas Thak-Thakan Bledug Kenanti bagian tertentu rambut topengnya diikat dengan janur kuning. Dalam konteks pemahaman kejawen janur bisa diartikan sejatine nur atau cahaya illahi di mana ada kepercayaan lokal sebagai tolak balak gangguan gaib.
Ternyata nilai kearifan lokal bukan hanya ini saja, beberapa hari sebelum dipentaskannya juga ada prosesi nyetrekno atau menaruh topeng di tempat bertuah seperti sendang dan makam kramat. Seperti Thak-Thakannya Mbah Timbang dari Desa Klutuk yang dikenal dengan sebutan Thak-Thakan Sendang Budoyo.
Mbah Timbang ini menaruh topeng-topengnya pada hari tertentu sebelum pentas di lokasi sendang desa tersebut, sampai pada sebelum berangkat kirab mengadakan brokohan atau doa bersama dengan disiapkannya kupat, lepet, jajan pasar, dan sesaji lainnya.
Karakter seni tradisi inilah terkadang ada penonton yang lagi menggendong anaknya mengalami kejadian sawanen atau anak kecil menangis di malam hari yang secara terus menerus tidak terdiam setelah menonton pertunjukan tersebut.
Keyakinan masyarakat setempat agar anak kecil itu berhenti menangis dengan cara meminta sehelai rambut Thak-Thakan kepada pemilik atau pawangnya untuk diusapkannya di bagian kening anak tersebut, dan alhasil beberapa waktu kemudian bisa terdiam.
Peristiwa berkesenian yang sulit dirasionalkan ketika ketua paguyuban Thak-Thakan Surolawe dari Dukuh Pasatan, Desa Cokrowati melontarkan pengalaman estetiknya tentang pembuatan salah satu topeng dengan cara meditasi yang dengan sengaja menghadirkan makhluk gaib pada sebuah cermin untuk dijadikan objeknya.
Namun tidak semuanya Thak-Thakan itu sebagai ungkapan mistis, ada pula tokoh-tokoh pemuda pegiat seni pertunjukan Thak-Thakan yang mengedepankan estetika bentuk topeng, pengembangan tehnik mewarnai dengan metode airbrush, adegan yang terkonsep, dan olah gerak yang tertata.
Keberadaan Thak-Thakan ini di Desa Belikanget dengan nama Gembong Singolawe, dari sini bisa diambil benang merah bahwa pertunjukan yang berbasis kearifan lokal masih banyak digandrungi.
Ditemukan pula di Desa Sotang, ada dua komunitas yang masih bergaung itupun penggeraknya juga para pemuda.
Menjamurnya kesenian ini tampak ada anak-anak kecil di Desa Sobontoro saat hari libur sekolah terkadang juga terlihat bergerombol saling bergantian untuk bermain Thak-Thakan. Fenomena inilah menjadi jejak warisan budaya yang berkembang menjadi identitas keberagaman kesenian di Kabupaten Tuban.
Penulis : Buntas Pradoto | Editor: Agung Purwantara









