Adakabar.com Surabaya-Kota Pahlawan tidak memiliki banyak obyek wisata alam. Akan tetapi destinasi yang ada cukup potensial untuk dikebangkan
Diantaranya adalah sektor bahari dan perikanan, masih bisa diandalkan untuk meraup keuntungan di tengah pandemi Covid-19.
Salah satunya dengan memoles dan modernisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Romokalisari, Jalan Tambak Osowilangun, Surabaya.
Kini, kompleks pelelangan ikan tersebut menjadi salah satu destinasi wisata bahari dan kuliner di Surabaya.
Lokasi TPI ini, kemudian menjadi perpaduan antara wisata kuliner, wisata bahari dan pasar apung.
Diharapkan pengembangan TPI ini semakin memberikan dampak positif ke warga sekitar. Terutama dari segi ekonomi.
“Para pedagang dan nelayan yang ada di Kompleks Sentra Ikan Romokalisari ini pun, merasa semakin tergerak untuk aktif menjaga kebersihan, baik itu dari sisi makanan maupun stan-stan,” uangkap Bu Eko salah satu pedagang makanan di TPI Romokalisari, Senin (14/5/2021).
Bu Sri, seperti halnya para pedagang lainnya, berharap, agar semakin banyak pengunjung atau wisatawan yang datang ke Surabaya, khususnya ke TPI Romokalisari.
“Modal utama kami adalah bersih, termasuk makanan dan tempat. Jadi kami memang harus mau berubah. Berubah untuk lebih baik dan bersih, bukan untuk lebih jelek. Kalau sudah ada bantuan dari pemerintah seperti ini, artinya Tuhan telah membuka pintu rejeki untuk kita,” ujarnya.
Tak dipungkiri, membangkitkan destinasi itu bukan hanya sekadar menyiapkan fasilitas. Namun juga harus menyiapkan sumber daya manusianya.
“Karena itu, Pemerintah Surabaya telah melakukan pelatihan kepada para pedagang disini,’ imbuhnya.
Materi pelatihannya antara lain, cara mengolah masakan, agar enak dan bersih serta menarik dipandang mata.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Yuniarto Herlambang mengungkapkan, ada beberapa potensi yang dikembangkan di Komplek Sentra Ikan Romokalisari. Salah satunya budi daya kepiting soka.
“Karena memang potensi di sini, di Pulau Galang itu juga banyak kepitingnya. Nanti mereka (nelayan) tangkap, terus dimasukkan ke dalam kumbung-kumbung (keramba) tadi untuk dijadikan soka,” kata Herlambang.
Selain budidaya kepiting soka, pihaknya juga mengaku memberdayakan nelayan sekitar. Caranya dengan memanfaatkan perahu nelayan untuk dijadikan wisata air di saat hari libur.
“Nanti hari libur, Sabtu dan Minggu, warga bisa memanfaatkan wisata perahu. Ada 14 Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan di sini, ini yang kami maksimalkan,” pungks Yuniarto Herlambang.











