Adakabar.com. Surabaya- Varian baru virus Covid-19 dari Afrika Selatan dan Inggris telah masuk di Surabaya. Kecepatan penularan virus ini lebih cepat dari varian sebelumnya.
Hal ini disampaikan penanggung jawab Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II Indrapura (RSLKI) Kota Surabaya, Laksamana Pertama TNI. dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara saat konferensi pers, Selasa (18/5/2021).
Ia meminta kepada para tenaga medis, relawan pendamping, pasien dan masyarakat tidak abai dan tetap menerapkan protokol kesehatan, walaupun sudah mendapatkan vaksinasi. Mulai dari cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan.
Nalendra menjelaskan, awal mula varian virus baru tersebut masuk tanggal 11 Mei. Keesokan harinya pihaknya langsung mengirim sampel ke ITB, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Jakarta.
“Perbedaan perawatan terletak pada isolasinya. Kami pisahkan tersendiri. Tujuannya adalah mencegah penularan yang terjadi sangat cepat. Risikonya berat dan sungguh luar biasa. Ini yang kami takutkan. Jika dibandingkan dengan pasien dulu. Kami kumpulkan dan kami ajak olahraga,” ujarnya.
Masih kata dokter Nalendra, ada dua pasien dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengalami indikasi gejala varian baru Covid-19. Mereka mengeluhkan nyeri otot dan kelelahan. Kemudian disusul dengan gejala lanjutan yang sama seperti virus corona sebelumnya.
“Kurang lebih 36 sampai 75 persen kecepatan penyebarannya. Alhamdulillah sekarang ada yang negatif dua kali hasil pemeriksaan. Tetapi kami masih menunggu sampai hari ke 14,” tuturnya.
“Kebutuhan RSLI untuk PCR 3G masih bisa dilakukan kalau jenisnya Varian Of Sequence. Ini masih bisa dibaca. Kalau yang jenisnya berat kita butuh PCR 4G,” lanjutnya.
Dokter Nalendra juga berpesan, jangan sampai Indonesia mengalami Tsunami Covid-19 yang serupa terjadi di India. Masyarakat India sudah euforia dan mengabaikan protokol kesehatan ditengah kondisi produsen vaksinasi.
“Masyarakat India 70 persen belum vaksinasi dan tidak memperhatikan varian baru. Kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Begitu muncul varian baru kami membuat protokol kesehatan yang harus dilakukan oleh pasien varian baru. Dari tahapan perawatan dan monitoring sudah kami buatkan. Panduan klinis sudah ada. Sehingga sudah punya langkah langkah antisipasi terhadap varian baru,” pungkasnya.









