Adakabar.com. Gerbang Desa Senjayan, Gondang, Nganjuk, nampak ornamen mirip dua ekor buaya. Mengapa?
Sebuah sungai yang cukup lebar melintasi daerah ini, yang tergolong kuno. Pertemuan dari beberapa sungai yang bermuara di Brantas, Kertosono.
Desa Senjayan mempunyai mitologi Buaya Siluman penunggu sungai Senjayan. Makhluk gaib ini dipercaya sebagai penjaga wilayah desa yang baik. Bertempat di tekukan sungai.
Mbah Bajul Njayan, begitu sebutan yang lazim, (disamping ada beberapa sebutan lain), terkenal suka membantu warga yang hidupnya susah.

Kadang mengirim perhiasan, mebel, bahan makanan dan lain-lain. Juga bahan-bahan untuk peringatan hari besar tertentu. Bahkan menanggap pentas wayang kulit.
Konon, pernah ada rombongan dalang datang ke Desa Senjayan, karena memenuhi undangan salah seorang warga. Dan, sudah dibayar lunas.
Namun tak ada nama warga desa Senjayan yang telah nanggap wayang tersebut. Akhirnya mereka pun pentas di pinggir sungai.
Terlepas dari benar tidaknya keberadaan Bajul Njayan ini. Tetapi cerita turun temurun ini, nilai kebaikannya mampu mempengaruhi masyarakat. Bahwa desanya mendapat manfaat kebaikan dari makhluk Allah yang gaib tersebut.
Nilai kebaikan itu pun sedikit banyak mempengaruhi alam pikir masyarakat. Bahwa manusia harus saling melindungi, tolong-menolong. Juga berhati-hati terhadap sungai atau alam sekitar.
Jika demikian, mitos menjadi salah satu sistem pembangunan karakter masyarakat masa lampau.
Radcliffe Brown (Haviland, 1985:332)
mengungkapkan bahwa setiap kebiasaan
dan kepercayaan dalam masyarakat
memiliki fungsi tertentu agar masyarakat
tetap lestari. Sebuah sistem akan terus
berusaha menjaga keseimbanganya, dengan struktur yang relatif tetap, meskipun isi dari struktur dapat berganti.
Legenda Bajul Njayan akan tetap memiliki
susunan struktur sesuai pola penyusunnya, akan tetapi cerita akan legenda tersebut dapat berubah-ubah mengikuti perkembangan masyarakat.
Dalam sistem hubungan antara legenda dengan masyarakat Desa Senjayan akan tetap saling mempengaruhi satu sama lain. Varian cerita dari Legenda Bajul Njayan diproduksi masyarakat sebagai
sarana pengontrol dan pengingat masyarakat dengan seperangkat aturan di dalamnya.
Aturan-aturan tersebut adalah produk ciptaan kognisi yang digunakan untuk mengontrol perilaku masyarakat agar terus selaras dengan alam.
Hal tersebut terlihat
pada perilaku mereka akibat atas kepercayaan, aturan, nilai dan norma dalam kognisi bersama.
Sehingga varian
cerita legenda berfungsi dalam membentuk
kebudayaan dalam masyarakat tertentu.









