Perusakan Baliho Puan, Semakin Diganggu Jadi Promosi Efektif

oleh -60 Dilihat
oleh
Salah satu baliho Puan yang mengalami perusakan

Adakabar.com. Surabaya-Aksi vandalisme terhadap baliho Puan Maharani, Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan viral di media sosial.

Menurut DPD PDIP Jatim, vandalisme berupa coretan itu terjadi di dua daerah, yakni: Kabupaten Blitar dan Surabaya.

Asep Irama Direktur Indo Publika menilai, vandalisme itui sebagai upaya untuk menjatuhkan marwah Puan. Terlebih, coretan yang dibubuhkan memiliki stigma negatif. Mulai dari ‘Open Bo’, ‘Koruptor’ hingga ‘PKI’.

Pihaknya pun menduga, ada oknum  yang sedang terancam dengan maraknya baliho Puan.

“Kehadiran Mbak Puan dengan PDIP yang cukup solid, adalah ancaman tersendiri bagi Calon Presiden 2024 lainnya, posisi Mbak Puan sebagai Ketua DPR RI, pertama, jelas memberikan nilai tawar yang cukup tinggi, oleh sebab itu banyak yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Mbak Puan dalam bursa Capres 2024,” ujarnya tertulis, Senin (26/7/2021).

Asep melihat kalau vandalisme itu masuk kategori black camapaign (kampanye hitam). Ia pun menyarankan kepada pihak terkait terutama PDIP, supaya tidak ditanggapi berlebihan. Sebab, sekarang ini sudah ditangani oleh kepolisian.

“Mbak Puan beserta timnya harus lebih bijak dan arif merespon kampanye-kampanye hitam,” sarannya.

“Jadi, merespon serangan dari kubu yang tidak menghendaki kehadiran Mbak Puan, harus betul hati-hati. Menurut saya, memilih bertahan dan terus berkampanye positif lebih baik dari sekedar menyerang balik,” lanjutnya.

Senada dengan Asep, peneliti senior dari Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam juga menyarankan agar aksi vandalisme itu direspon dengan tenang. Menurutnya kejadian ini justru bisa mengambil simpati publik.

“Anggap saja itu ujian. Kian banyak diganggu biasanya kian banyak simpati. Pemilih Indonesia itu melow, kian didzalimi kian dapat simpati,” kata Surokim.

“Jika melihat kejadian selama ini, kian diganggu baliho atau media sosialisasi dan kampanye didzalimi, maka kian jadi medium promosi efektif kalau lihat konteks politik elektoral selama ini,” tuturnya.

Secara terpisah, pengamat sosiologi politik Universitas Airlangga (Unair), Novri Susan berpendapat, kalau vandalisme adalah bentuk kekerasan yang dilakukan untuk tujuan merendahkan, menstigma dan memarjinalisasi.

Aktor vandalisme tidak memiliki nilai demokrasi dalam perbedaan kepentingan dan ideologi.

“Maka, pelaku vandalisme bertentangan dengan nilai dan kaidah demokrasi,” tegas dia.

Novri menyambung, secara sosiologis tindakan vandalisme pada baliho Puan, merupakan simbol yang bermakna ketidaksukaan, atau pertentangan secara sosial dan politik.

Kasus vandalisme pada tokoh tertentu, menjadi alarm bagi Puan untuk menciptakan strategi sosialisasi yang lebih mampu merangkul banyak pihak.

“Baliho yang ada efektif untuk pendukung Puan, namun kurang efektif dalam membangun ikatan sosial baru. Baliho biasanya dipakai pada saat momen khusus sedangkan saat ini kan tidak dalam situasi momen khusus,” pungkas Novri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.