Mahalnya harga kedelai yang berdampak pada naiknya nilai jual tempe dan tahu.
Bahkan di beberapa pasar tradisinal di Sidoarjo, tempe mulai langka. Jika menginginkannya harus pagi sekitar pukul 06.00 WIB, sudah harus ke pasar.
“Sebab siang sudah habis, karena pasokan dari produsen tempe terbatas”. Kata Tika, salah seorang pedagang di pasar kawasan Buduran, Sidoarjo.
Banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan harga kedelai ini, namun juga ada sejumlah solusi untuk bisa mengontrol harga bahan baku tahu dan tempe ini. Seperti apa solusinya?
Kenaikan harga bahan baku tahu dan tempe ini sudah terjadi beberapa kali. Setidaknya dalam lima tahun terakhir selalu fluktuatif.
Ketua Umum Yayasan Kedaulatan Pangan Nasional, Jawa Timur, Jamhadi mengatakan, kebutuhan kedelai di Jatim mencapai 450. 000 ton, sedangkan supply dari hasil produk pertanian sekitar 302.000 ton. Sehingga kurang 148.000 ton, dan harus import, diantaranya dari Amerika, Brasil serta India.

“Kenaikan ini rupanya juga dipengaruhi situasi global dinamika ekonomi yang terkontraksi karena adanya pandemi covid 19.
“Selain itu, stok kedelai dunia diborong China, yang sebelumnya import dari Amerika sebanyak 15 juta ton menjadi 30 juta ton,” tegas Jamhadi.
Lebih lanjut Jamhadi menambahkan, untuk mengatasi hal ini perlu adanya kerjasama dari sejumlah pihak.
Masyarakat mesti membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan sejenis tahu dan tempe yang memiliki asupan nutrisi yang sama.
“Para ahli dan akademisi bisa hadir dengan melibatkan hasil riset pertanian, dengan bibit unggul dan pola tanam. Sehingga dengan lahan pertanian yang cenderung susut produktivitas kedelai tetap meningkat,” tukasnya.
Masih menurut Jamhadi, pemerintah harus menetapkan kebijakan law enforcement dalam tata guna lahan pertanian, dan penataan pembangunan wilayah di arahkan dengan pola vertical development, sehingga bisa tercapai swasembada kedalai sehingga tidak tergantung import.
“Kalau pembangunan industry dan property terus dilakukan secara horizontal karena tidak adanya kebijakan dari pemerintah, yang mengatur hal tersebut, maka bisa dipastikan lahan pertanian yang digunakan untuk menanam kedelai bisa susut setiap tahunnya. Hal ini juga bisa berdampak pada produktifitas kedelai di Jawa Timur,” tukas Jamhadi. (Mosair)











