Jangan Salahkan Hujan, Peneliti Bencana ITS Jelaskan Pemicu Longsor Nganjuk.

oleh -75 Dilihat
oleh
Mahkota Longsor di Desa Ngetos, Nganjuk menunjukkan lapisan tanahnya yang tebal dan akar vegetasinya yang pendek.

Adakabar.com.Surabaya-Peneliti bencana dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo MSi memberikan opini ilmiahnya terkait longsor di Ngetos, Nganjuk beberapa waktu lalu, dengan harapan agar dapat dijadikan pelajaran bersama ke depannya

Amien tak bosan mengingatkan bahwa pernyataan yang mendakwa hujan deras sebagai sebab terjadinya banjir dan longsor adalah kurang mendidik dan sebaiknya diperbaiki. “Pasalnya, hampir setiap terjadi bencana hidrometeorologis, pemerintah mengeluarkan pernyataan hujan adalah pemicunya,” ungkapnya.

Padahal, menurut Amien, hujan hanyalah satu faktor yang mendorong terjadinya bencana hidrometeorologis, seperti longsor belakangan yang menimpa Nganjuk. “Jika terus menerus menyalahkan hujan, generasi yang akan datang tidak akan belajar dari kesalahan dan hanya akan melakukan kesalahan yang sama,” tuturnya.

Ia melanjutkan, bahwa karakteristik gerak benda pada bidang miring dapat bergerak saat faktor rekatan berkurang atau mengecil. “Sebab lainnya, adalah karena adanya penambahan beban pada benda, serta membesarnya sudut kemiringan,” imbuhnya.

Sama halnya peristiwa longsor, pergerakan tanah lebih rentan terjadi di lereng-lereng gunung yang memiliki kemiringan. Tanah yang menempel pada lereng gunung dapat dianalogikan seperti suatu benda pada bidang miring. Jika pembebanan tidak bertambah berat dan sudut kemiringan jauh dari titik kritis, maka berkurang kemungkinan terjadinya pergerakan tanah atau longsor.

“Tanah gunung tersebut terbentuk karena adanya proses pelapukan yang dipengaruhi iklim, topografi, batuan, vegetasi, dan waktu,” sambung Amien.

Iklim, khususnya hujan dan panas, dapat mempercepat terjadinya proses pelapukan. Iklim tropis di Indonesia kemudian dapat memicu pelapukan batuan lebih sering terjadi, sehingga tanah di Indonesia memiliki lapisan lebih tebal daripada yang lain. Seiring dengan bertambahnya waktu, tanah gunung menebal dan pohon-pohon membesar. Akar-akar pepohonan itulah yang berperan memegangi tanah agar tidak terjadi longsor.

“Pembebanan berlebih pun dapat ditahan dan tanah menjadi lebih stabil karena tidak mudah bergeser lagi,” lanjut dosen lulusan UGM itu. Berdasarkan prinsip gerak benda pada bidang miring, menurutnya stabilitas tanah gunung bisa berubah tidak stabil karena beberapa hal.

“Pertama, pengurangan vegetasi jelas menjadi satu penyebab tanah menjadi tidak stabil,” sebutnya. Kondisi ideal dan stabil muncul saat akar serabut membantu meningkatkan sifat kohesi tanah, sedangkan akar tunjang menjadi angker atau paku pada batuan penyokong di bawahnya. Seperti masih banyak terjadi, hilangnya vegetasi umumnya dikarenakan penebangan dan kebakaran hutan.

Kedua, stabilitas tanah dapat terganggu karena pemotongan lereng di bagian bawah. Sehingga, lapisan tanah akan semakin mendekati posisi kritis alias tidak ideal. Secara alami, pemotongan itu dapat terjadi karena tererosi oleh aliran sungai atau longsor sebelumnya.

“Tetapi, jangan lupa aktivitas seperti penambangan, pembuatan terowongan, dan pelebaran rumah, misalnya, juga dapat mempercepat lapisan tanah di kemiringan lereng mendekati titik kritisnya,” katanya mengingatkan.

Penyebab ketidakstabilan tanah yang ketiga yaitu penambahan beban yang berketerusan. Penambahan beban secara alami dapat terjadi akibat longsor yang menimbun. Tetapi, dari kacamata Amien paling banyak adalah karena ulah manusia seperti penambangan tanah guna pembangunan permukiman atau penyalahgunaan lereng sebagai tempat sampah.

Yang keempat, kestidakstabilan tanah dapat terjadi karena penambahan kadar air. Umumnya, penambahan ini sering terjadi pada saat hujan turun terus-menerus selama beberapa jam. Akan tetapi, pembebanan air juga dapat terjadi karena ulah manusia, seperti dengan pengadaan kolam dan persawahan.

“Termasuk rembesan septic-tank pun dapat menambah beban berat air yang harus ditanggung tanah,” tambah Amin

Semakin banyak air yang menjadi tanggungan tanah, semakin kecil daya ikat (sifat kohesi) tanah. “Semakin rendah sifat kohesi tanah, semakin jenuh sifat tanah dan akan semakin rentan tanah itu mengalami longsoran,” terusnya.

Belum cukup sampai di sini, masih menurut Amien, penyebab kelima yaitu getaran yang dapat mengubah atau melepaskan ikatan antar butir tanah. Getaran yang mungkin mengenai tanah, misalnya gempa yang terjadi secara alami atau getaran akibat kendaraan berat dan kereta api yang terjadi masih dalam kendali manusia.

Selain lima yang di atas, Amien menyebut penyebab terakhir yang mempengaruhi stabilitas tanah, yaitu pelapukan yang menyebabkan terjadinya proses kimia dalam tanah, seperti proses pelindihan senyawa/unsur pengikat tanah dan translokasi mineral lempung, dapat mengurangi kekuatan ikatan antar material penyusun tanah. Namun, faktor ini membutuhkan penelitian dan penilaian lebih detail menggunnakan analisis fisik, kimia, dan biologi. (Mosair)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.