Hari Bakcang, Mengenang Cinta dan Keteguhan

oleh -88 Dilihat
oleh
Festival Bakcang di Sungai Kapuas, Pontianak (Foto istinewa/ilustrasi)

Adakabar.com Berdasarkan metafisika China, hari Bakcang adalah hari ketika energi Yang keluar paling kuat. Kepercayaan ini membuat festival bakcang juga dikenal dengan sebutan Festival Extreme Yang.

Selain itu dikenal sebutan lain untuk festival ini yakni; Festival Bulan Kelima, Festival Hari Kelima, Festival Summer, dan Festival Duan Wu.

Ba Chuan atau yang juga biasa disebut Peh Cun adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh etnis Tionghoa yang jatuh pada hari 5, bulan 5 kalender Cina. Tradisi ini juga biasanya disebut dengan hari Bakcang. Dalam tradisi ini, biasanya diadakan festival makan bakcang dan balap perahu naga.

Bagaimana bisa disebut Hari Bakcang?

Hari Bakcang berkaitan erat dengan seorang tokoh bernama Qu Yuan. Ia merupakan seorang sarjana patriotik dan menteri di negara Chu.

Ia seorang diplomat ulung yang pandai bekerjasama dengan kerajaan lain, demi melawan agresi negara Qin. Hal ini membuat dirinya disukai oleh banyak kalangan.

Pada suatu ketika, ia difitnah dan dibuang ke pengasingan, atas tuduhan palsu yang meyakinkan raja, bahwa ia telah melakukan korupsi.

Saat diasingkan, tahun 278 SM, ia mendengar,bahwa pasukan Qin menyerbu Ying, yakni ibubkota Negara Chu. Ia kemudian menulis puisi untuk Ying, lalu menenggelamkan diri di Sungai Miluo.

Hal itu dilakukannya untuk memrotes korupsi yang menyebabkan jatuhnya Negara Chu. Banyak penduduk desa yang pergi mencari tubuhnya di sungai menggunakan perahu. Mereka melakukannya, sambil menabuh drum untuk menakut-nakuti ikan dan roh-roh jahat agar tubuh Qu Yuan tidak diganggu.

Mereka juga melempar bungkus beras ke dalam sungai yang dimaksudkan sebagai persembahan untuk roh Qu Yuan. Inilah mengapa tradisi makan kue beras dan balap perahu naga muncul.

Keturunan Tionghoa di Indonesia biasa memasak bakcang. Namun mungkin agak berbeda dengan resep asli. Menyesuaikan dengan bahan lokal.

“Ketan direndam semalam. Kemudian dikaru. Setelah itu
Masak daging babi kecap. kuning telur dari telur asin. Selanjutnys dimasukkan ke dalam ketan dan dibungkus daun bambu kemudian digodog (direbus-red),” kata Nila Indawati warga Madiun pemilik usaha “Warung Soto Kondang” dekat Klenteng Kota Madiun

Lanjutnya, “Masakan hari bakcang itu berbeda dengan masakan Sincia (Imlek). Dulu, bila sembahyangan Sincia ada masakan 6 macam. Masak O, masak cin, sup telur, baikut sayur asin, masak mie, masak kecap. Juga ada kue enam macam, kue basah yaitu kue mangkok, kue tok, lemper, mendut, wajik, kue kukus. Juga minuman yang disukai keluhur. Tapi sekarang budaya itu mulai luntur,” pungkas Mak Nil, begitu pemilik (Soto Kondang) itu biasa dipanggil, mengakhiri ceritanya. (Apur/dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.