Memungut kembali serpihan serpihan yang berserak. Tak hendak bergerak sebab terlalu banyak. Duduk dengan desahan nafas yang berat. Lebih berat dari daftar nomor di halaman kuning yang ku duduki kini.
Sementara di depan seorang perempuan melintas dengan beban di kepalanya. Lalu di manakah dia simpan kenangannya? Dia tak perlu memunguti satu satu.
Siang terlalu lapar untuk tenggelam dalam kubangan masa silam. Biarlah ku tiru perempuan itu. Tak perlu punguti serpihan kenangan. Meski menyunggi beban di kepalanya.
Surabaya, aku lupa tanggal hari ini, Kamis 2014 ketika adzan bergaung di langit gayungsari. Aku akan beranjak dari tempat ini.









