Mengistirahatkan mata. Setelah sebutir pasir mampir padanya. Dan istriku memungut dengan ujung kerudungnya. Menikmati secangkir kopi lagi. Sambil mengedip-kedipkan mata agak lama. Menikmati perih. Sambil berguman sendiri.
Di warung yang sepi.
Sementara besi-besi raksasa beroda menderu.
Terus hempaskan debu pada rivalnya.
Tiadalah sebanding anjing-anjing besi atau bebek-bebek berasap itu.
Apalagi aku.
Kau mungkin sama.
Menyusuri jalur serupa kulit ular raksasa.
Yang sembunyikan maut pada retakan jalan raya.
Setiap yang lewat terburu hendak ke mana.
Atau berlari dari kejaran lapar.
Atau perangkap sakit mencengkeram.
Inilah legenda kota-kota.
Yang dikuasai pandemi yang meraja.
Serupa butiran pasir yang terbang menyambar mata siapa saja.
Hati-hatilah saudara. Karena meja kebijakan pasti berbau tengik kepentingan politik.
Surabaya, 23 Juli 2020









