AWS Berbagi, Kali Ini Sambang Kampung 1001 Malam

oleh -17 Dilihat
oleh
Risky (kanan) Anggota AWS sedang menyerahkan nasi bungkus di Kampung 1001 Malam didampingi Martuji (kiri) Ketua AWS

Adakabar.com. Surabaya-Kampung 1001 Malam, begitu mereka menamakan hunian yang telah ditempati belasan tahun.

Tepatnya di Jl. Tambak Asri, Klurahan Moro Krembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya. Sebuah hunian di bawah kolong jembatan tol.
Sebuah hunian yang dibangun model bedeng, dari triplek2 bekas.

Para penghuninya adalah keluarga, pemulung, tukang becak, dan pekerja serabutan. Mereka sulit mendapat akses air bersih di antara singai yang kotor, pengap dan bising.

Selasa, (10/8/2021) Aliansi Wartawan Surabaya (AWS) dengan agenda sosialnya “AWS Berbagi” kali ini mengandekan bersilaturahmi dengan sebagian warga kampung itu, sambil membagikan nasi bungkus, yang khusus selama masa pandemi Covid-19, secara rutin dilaksanakan.

Tidak hanya di Kampung 1001 Malsm saja, Kali ini, sasaran aksi sosial aliansi para wartawan itu, juga berbagi dengan sebagian warga permukiman Pinggiran Tambak Wedi, Surabaya Utara.

Rizky dan Roy Arudam wartawan media online mendapat kepercayaan membagikan nasi bungkus ke warga yang menempati kolong jembatan tol di Jalan Tambak Asri.

Sementara Amar dan Bambang mendapat tugas bertandang ke kampung Tambak Wedi, masing-masing tim membagikan 50 bungkus nasi.

“Saya, trenyuh melihat kenyataan ini, ternyata¹ mereka tinggal di tempat seperti ini (di kolong jembatan tol). Apalagi di masa pandemi, pasti mereka membutuhkan uluran tangan (bantuan-red). Jujur saya ikut berdoa mudah-mudahan program “AWS Berbagi” ini bisa terus berkesinambungan, syukur-syukur ada donasi yang juga ikut peduli,” ucap Risky sambil berjalan menghampiri para penghuni.

Kalimat yang sama juga disampaikan Amar, sekretaris di wadah jurnalis Surabaya ini mengaku, lega bisa datang sendiri dan memberikan bingkisan, untuk makan malam.

“Semoga aksi ini bermanfaat buat mereka. Dimasa sulit karena dampak pandemi Covid-19. Mereka butuh bantuan,” ucap Amar.

Menyambut kehadiran Tim AWS, permukim di tepi sungai dan atap bangunan jalan tol itu pun berucap terimakasih, sambil mengulurkan tangan menerima nasi bungkus.

“Terimakasih Mas Mas dari AWS, semoga mendapat imbalan pahala yang setimpal,” kata Yuli, salah seorang penghuni kolong jembatan tol.

Perempuan yang belum terlalu tua itu kemudian bertutur saat AWS melontarkan sejumlah pertanyaan. Diantaranya, dia mengaku sejak kecil tinggal di tempat itu, hingga sekarang memiliki tiga anak, nomor 1 dan 2 duduk di sekolah dasar, dan yang nomor tiga masih balita.

Suaminya kuli bangunan, di masa pandemi ini praktis tak ada pekerjaan. Sementara, untuk kebutuhan sehari-hari Yuli berjualan berbagai jenis jajan rentengan di depan gubugnya, yang pastinya tidak layak disebut rumah tinggal.

“Ya hanya ini yang saya andalkan (jualan jajan rentengan, yang digantung sekenanya). Sehari kadang mendapat 50 ribu kadang 70 ribu,” ucap Yuli yang mengaku asalnya dari Madura.

Suaminya, disebut kadang juga berusaha dengan mencari dan mengumpulkan barang bekas, kalau sudah banyak kemudian di jual, meski tidak bisa dipastikan bisa untuk menutupi kebutuhan dapur.

Ditanya apakah juga memiliki identitas kependudukan Surabaya, perempuan itu menggeleng.

“Tidak, masih KTP Madura,” ucapnya pelan.

Lantaran, sudah gelap, AWS pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan, meski masih banyak keingintahuan yang perlu ditanyakan. Misalnya, bagaimana mereka mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, pasokan listrik dan sebagainya.

Pastinya, mereka bermukim di lokasi yang tak layak. Ruangan sempit berbaur dengan berbagai perabot jauh dari syarat hidup normal. Selain soal kesehatan, jaminan keamanan menjadi pertaruhan. Sekedar gambaran, untuk menuju Kampung 1001 Malam, kita harus menumpang perahu atau warga setempat menyebutnya ‘Tambangan’.

Berjalan pun harus menunduk, lantaran harus menyesuaikan dengan keberadaan dinding cor bangunan jalan tol.

“Terimakasih untuk AWS, atas kepeduliannya,” ucap Yuli mengulangi kalimat sebagai ungkapan rasa syukur mendapat bantuan.

Sementara, Ketua AWS Martudji mengaku akan terus melakukan aksi peduli itu menjadi bagian dari kegiatan organisasi. Dengan rencana kedepan dikombinasikan dengan membagikan pakaian layak pakai.

“Pertama, saya atas nama ketua dan juga pribadi mengucapkan terimakasih, rekan-rekan wartawan di Surabaya mau melakukan aksi sosial ini. Dan, sesuai hasil keputusan rapat, aksi AWS Peduli yang dikoordinasi Amar ini akan terus berlanjut, hingga ada keputusan perubahan. Termasuk, akan di kombinasi dengan membagikan pakaian layak, yang dikumpulkan dari internal AWS juga dari donatur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.