Adakabar.com. Surabaya- Sekolah daring alias online di rumah rupanya menimbulkan persoalan baru. Kejenuhan sudah pasti dirasakan para pelajar. Pasalnya, pelaksanaan belajar secara tatap muka yang sedianya digelar awal tahun, diundur oleh pemerintah hingga paling cepat Juli mendatang.
Berberapa pelajar akhirnya memilih pengamen di jalanan hingga perkampungan. Hal itu terpaksa dilakukan untuk mendapatkan uang dan mengisi waktu.
Fenomena itu disampaikan oleh sebagian warga Nginden kepada Anggota DPRD Jatim Dapil Surabaya, Lilik Hendarwati.
Politisi PKS ini pun mengaku prihatin mendengar keluhan warga tersebut.
“Saya mendapati pengaduan warga di Surabaya kalau anaknya sudah jenuh untuk pembelajaran daring. Bukannya tambah pintar malah pengetahuan anak berkurang,” katanya, Rabu (24/3/2021).
Bahkan, lanjut dia, karena bosan pembelajaran daring, anak-anak di Surabaya yang orang tuanya mengadu ke dewan itu, memilih mengamen saat jam sekolah.
Lilik yang juga Anggota Fraksi Keadilan Bintang Nurani (FKBN) DPRD Jatim berharap pemerintah mempertimbangkan kembali pelaksanaan pembelajaran daring.
“Untuk tingkat provinsi saya melihat sejumlah sekolah dibeberapa tempat sudah ada diujicobakan pembelajaran dengan menggunakan protokol covid-19,” jelasnya.
Jika nantinya pembelajaran tatap muka mulai diberlakukan, Lilik berharap untuk sekolah yang dikelola oleh kabupaten/kota di Jatim lebih tegas dalam penerapan protokol Covid-19.
“Persiapkan dulu dengan matang protokol Covid-19, jangan sampai anak-anak menjadi kluster baru dalam penyebaran Covid-19,” jelasnya









