Adakabar.com. Surabaya-Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur akan kembali menggeliat dan menembus kisaran 5,1 hingga 5,4 persen, jika Provinsi Jawa Timur gencar melakukan perdagangan antar daerah.
“Ketika perdagangan antar daerah pulih, sektor pertanian yang tidak terpengaruh dengan pandemi Covid-19 dan sektor koorporasi yang mulai pulih, tinggal sektor jasa, maka Insya Allah Jatim akan kembali mulai tumbuh diangka 5,1 hingga 5,4 persen,” ujarnya dalam acara High Level Meeting dan Rapat Koordinasi Wilayah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Timur, di Gedung Negara Grahadi, Selasa (27/4/2021) malam.
Untuk itu, Difi berpesan TPID Provinsi Jatim untuk terus mengembangkan Business to Business (B to B) antara provinsi di Indonesia. Hal itu mengandung arti bahwa Jatim juga mendorong daerah di luar pulau Jawa untuk terus menciptakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang lebih banyak.
“Dengan demikian akan mampu mempermudah perdagangan antar daerah,” alasannya.
Difi juga mendukung adanya resi gudang di Ngawi. Menurutnya resi gudang di Ngawi tersebut akan menjadi pendorong bagi daerah lainnya.
“Mudah mudahan ini meningkatkan produktifitas di Jatim dan sejalan dengan pelaksanaan Perpres 80 yang mengudang investasi lebih banyak. Dan juga tadi dari sketor-sektor yang belum terjamah di Jatim yaitu sektor pariwsata dan sektor jasa lainnya,” katanya.
Menurutnya inflasi di Jatim sebenarnya tidak banyak terjadi gejolak termasuk pada masa Pandemi. Namun demikian, ada beberapa komoditas yang tetap harus diwaspadai, yaitu bawang merah, cabe rawit, bawang putih daging ayam, telur ayam dan juga gula pasir, khususnya menjelang hari besar keagamaan.
“Tapi seperti biasa, kita dengan kerja sama semua pihak dan dukungan satgas pangan dan Polda Insya Allah Jatim bisa mempertahankan prestasinya,” tuturnya optimis.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa sebenarnya ekonomi di Jatim sudah mulai tumbuh. Bahkan, pada masa pendemi kemarin, jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa, maka di Jatim relatif tumbuh baik.
“Terkait pertumbuhan ekonomi Jatim, kita harus tetap bersyukur, kontraksi kita terendah kedua setelah DKI dan yang lain lebih dalam lagi. Nilai ekspor dari bulan ke bulan kita meningkat 11,5 persen pada bulan Pebruari atas Januari. Kemudian Maret atas Pebruari kita naik lagi 17,94 persen,” terangnya.
Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian masih tumbuh positif di saat pandemi Covid-19 tumbuh 0,94 persen. Sedangkan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim tumbuh 11,90 persen dan ini kita bisa melihat 33,01 persen total tenaga kerja di Jatim masih ada di sektor pertanian.
“Betapa ini menjadi sektor strategis yang menyerap tenaga kerja yang lebih produktif lagi,” pungkasnya.










